92 

Antara Sistem Pendidikan, Covid-19, dan Hari Pendidikan Nasional: Sebuah Refleksi

Ditulis oleh: Titin Suharni, Mahsiswi Tadris Bahasa Inggris 2B

Pendidikan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) berarti proses mengubah sikap dan tata laku seseorang atau kelompok dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan latihan, proses, perbuatan cara mendidik. Lalu bagaimana dengan sistem pendidikan di Indonesia selama ini dan bagaimana sistem pendidikan di Indonesia di tengah pandemi covid 19 apakah sudah efektif dan mampu membentuk karakter siswa menjadi seseorang yang baik.

Undang-undang tentang sistem pendidkan nasoional di Indonesia No. 20 Tahun 2003 menekankan wajib belajar 12 tahun. Peraturan ini haruslah dibarengi dengan sistem pendidikan yang mendukung, baik dari sarana dan prasarana sekolah untuk mengembangkan minat, dan kenyamanan siswa di sekolah, serta kemampuan guru dalam mengajar siswa-siswi.

Pendidikan di Indonesia selama ini lebih menitik beratkan pada kemampuan kognitif yaitu perolehan nilai setiap ulangan, ujian tengah semester, dan  ujian akhir semester, hal ini menjadikan seorang siswa menghalalkan segara cara dengan menyontek teman, atau membawa catatan ketika ujian  agar mendapatkan nilai yang bagus. Perilaku seperti itu secara tidak langsung telah melupakan hakikat dari tujuan pendidikan, namun sekarang dengan menteri pendidikan  baru yang sering disebut dengan menteri millennial yaitu Bapak Nadim Makariem, mulai melakukan perubahan pada dunia pendidikan dengan siswa cerdas tidak hanya dilihat dari kecerdasan secara kognitif, karena sejatinya setiap anak mempunyai kemampuan, bakat dibidangnya masing-masing, dan pengajaran sekarang  lebih ditekankan pada minat bakat siswa dan pembentukan krakter akhlak siswa.  

Lamanya proses belajar mengajar di Indonesia proses belajar mengajar bisa sampai 8 jam untuk tingkat SMP dan SMA sedangakan untuk tingkat SD, 6 jam, waktu istirahat hanya 15-20 menit,  dengan proses belajar lima hari dalam seminggu, ini terhitung cukup lama jika dibandingkan proses belajar di Finlandia negara yang terkenal dengan sistem pendidikan terbaik di dunia, di Finlandia, anak tak diizinkan sekolah sebelum usia 7 tahun jam pelajaran SD hanya 3-4 jam sehari, waktu istirahat mencapai 75 menit, jarang ada PR dan tidak adanya UN untuk 9 tahun pertama sekolah. Kebijakan penghapusan UN yang dilakukan oleh menteri pendidikan yang harusnya berlaku pada tahun 2021 namun harus berlaku pada tahun 2020 karena adanya covid 19. Penghapusan UN ini seolah menjadi angin segar bagi para siswa yang sering dibuat stress walaupun kelulusan tidak ditentukan oleh hasil UN, namun UN seolah-olah menjadi hal yang menakutkan bagi siswa.

Lalu bagaimana dengan sistem baru yaitu sekolah secara online di rumah karena adanya covid 19 apakah sudah efektif dan nyaman untuk siswa. Adanya wabah virus corona  membuat beberapa lini kehidupan yang biasanya dilaksanakan di luar rumah sekarang semuanya dikerjakan di rumah, termasuk sekolah, pemerintah sedang menerapkan sistem belajar dari rumah, yaitu proses belajar mengajar dilakukan dimasing-masing rumah siswa secara online, hal ini menimbulkan pro dan kontra tidak hanya siswa namun orang tua, proses belajar mengajar bukan seperti namanya, banyak dari guru yang mengganti proses mengajar dengan belajar sendiri lalu memberi tugas, yang terkadang tidak memikirkan apakah siswa bisa mengerjakan soalnya atau tidak, paham materi dengan tugas yang diberikan atau tidak, kemudian orang tua menjadi guru dadakan di rumah, mengajari anaknya belajar dan mengerjakan tugas.

Sistem belajar online ini masih belum efektif karena tidak dapat dipungkiri bahwa masalah krusial dari belajar online ini belum bisa teratasi yaitu sinyal atau jaringan, mungkin guru tidak menjelaskan materi kepada siswa-siswinya dan mengalihkannya ke tugas-tugas karena terkendala sinyal yang sulit, atau tidak mempunyai kuota yang cukup. Apalagi untuk didaerah pedesaan, terkadang mendapat jaringan sinyal sulit. dengan masyarakat yang secara ekonomi menengah kebawah akan mengeluhkan tambahan pengeluaran kuota yang harus dibeli. Sistem ini sebenarnya memberikan dilema bagi siswa, orang tua dan guru namun kebijakan ini harus tetap dilakukan untuk memutus mata rantai covid 19.

Semoga dengan diperingatinya hari pendidikan setiap tanggal 2 Mei, bisa menjadi semangat dan refleksi pemerintah untuk terus meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia, karena pendidikan adalah hal yang paling penting dalam kehidupan manusia, tingkat pendidikan seseorang tidak hanya dibuktikan dengan selembar kertas Ijazah saja, namun benar-benar kemampuan, sikap, dan sifat diri orang tersebut mencerminkan tingkat pendidikannya. Tugas memajukan pendidikan adalah tugas pemerintah, namun tugas mencerdaskan seorang siswa adalah tugs guru dan orang tua harus ada keseimbangan peran antar semua pihak. Mungkin pemerintah bisa mengadopsi atau mencontoh  sistem pedidikan Finlandia yang merupakan sistem pendidikan terbaik di dunia.

Titin Suharni
Tadris Bahas Inggris 2B

Credit:
Photo by Husniati Salma on Unsplash




Back to Top